Ketenangan dalam sikap belum tentu cerminan dari kekhusyukan hati. Bahkan, justru ketenangan itu bisa menggambarkan fakta sebaliknya, yaitu kekosongan hati.
Keadaan inilah yang diwanti-wanti oleh para salaf. Mereka menyebut, khusyuk kategori ini sebagai khusyuk nifaq, yaitu kekhusyukan palsu. Sebagian dari kalangan salaf meminta agar sikap tersebut dihindari.
Orang yang menampakkan kekhusyukan dalam shalat, padahal sama sekali tidak ada ketentangan di hatinya maka khusyuk yang ia tunjukkan tiada bermakna dan tak berguna. Umar bin Khattab pernah menegur seorang remaja yang tengah melaksanakan shalat.
Tingkat ketajaman batin Umar dapat merasakan kepalsuan khusyuk yang dipertontonkan remaja tersebut. Ia lantas meminta agar si remaja mengangkat kepalanya dan mengatakan bahwa khusyuk itu hanya terdapat di hati.
Ibnu Rajab memberi gambaran tentang shalat yang dilakukan oleh seorang shaleh, Hatim bin al-Asham. Dalam sebuah riwayat diceritakan, ketika itu Isham bin Yusuf bertemu dengan Hatim, lalu berbincang di majelisnya. Perbincangan mereka sampai pada bagaimana shalat yang seharusnya dikerjakan. Hatim menjelaskan shalat yang selama ini ia jalani.Dalam shalat itu, Hatim menjalankan itu berdasarkan perintah yang dituntunkan, ia berjalan menuju tempat shalat karena takut. Ia mulakan shalatnya dengan niat dan bertakbir karena keagungan-Nya. Tiap ayat yang dibaca dipahami dan diresapi. Rukuknya penuh khusyuk, sujudnya sarat dengan rasa kerendahan hati. Ia tutup shalatnya dengan tasyahud yang sempurna. Salam pun dilakukannya dengan niat.


0 comments:
Post a Comment
Komentar Jangan Mengandung SARA dan caci maki.